Selasa, 03 Mei 2016

Nyanyian Elegi Sang Petang

*Part 1: Senja Ku *






Diujung langit sore...

Aku melihat Senja sedang menanti datangnya Gulita. Duduk termenung disebuah bangku taman. tak ada senyum yang terlukis di wajahnya. Hanya kerut di dahi yang aku lihat. Aku adalah Petang. Petang yang selalu mengagumi sang Senja. Petang yang selalu berada disamping Senja, tetapi tak pernah bisa ada ketika Gulita datang menemani Senja. Aku Petang teman sang Senja. Teman yang selalu menghapus air matanya, yang melukiskan senyum di wajahnya dengan candaan ringan. Dulu Aku dan Senja adalah Kita. Tetapi semenjak Gulita hadir dan masuk kedalam kehidupan Senja, Senja mulai menjauhi diriku. Dia membangun sebuah tembok besar diantara persahabatan kita berdua. awalnya aku merasa tak suka, sedih, kecewa dengan apa yang terjadi dengan persahabatan ini. namun, lambat laun seiring waktu berjalan aku mulai membiasakan diri dengan adanya tembok pemisah diantara Aku dan Senja.

Keadaan ini terus berlanjut sampai 2 tahun lamanya. Aku tetap Petang yang dulu. tetapi tidak dengan Senja. Dirinya semakin berubah. Tak seperti dulu lagi, hanya satu hari dalam satu minggu kami bertatap mata. Tak ada lagi candaan ringan diantara kita. Tiap kali bertemu, hanya dian diam dan diam. Hanya ponselnya yang jadi pusat perhatiannya. Seakan dunia ini tak ada siap-siapa. Hanya ada dia dan ponsel saja. Acap kali aku berusaha membuka percakapan. Namun yang ada hanya satu kata untuk jawaban untuk setiap percakapan. Hanya iya, tidak, mungkin dan lainnya. Tak apa pikirku. Mungkin ada waktunya untuk ku bicara nanti. 

Keadaaan itu terus berlanjut. Hingga sampai pada puncaknya, hanya satu kali dalam sebulan aku bertatap muka dengannya. ku seperti orang lain baginya. sedih dan marah tak lagi bisa di gambarkan. Senja yang dulu selalu ku rindukan kini telah pergi entah kemana. Senja yang selalu terlukis senyuman di bibirnya, kini telah berubah menjadi seonggok batu yang dingin. Seperti raga yang tak bernyawa. Kaku dan tak punya rasa. ingin aku teriakkan di telinganya kalau aku rindu senja, tetapi apa daya aku tak punya tenaga. Kini aku memilih pergi untuk menjauh. Ke negri para dewa dewi. Mencari nirwana. Kali saja ada sosok nya yang kurindukan. Aku pergi tanpa memberitahu kemana aku akan pergi. Akupun tak berbicara sepatah kata saja padanya. Hanya sepenggal surat saja yang tertulis di kertas usang untuk dirinya.

Di kaki langit...
Aku selalu menanti dirimu...
Namun, Senjaku Tak kunjung datang...
Aku tak pernah bosan menunggu...
Tetapi aku lelah...
Kini aku akan pergi...
Tak menunggumu lagi di kaki langit...
Aku akan pergi mencari dirimu...
Ke Negri para dewa-dewi...
Mencari Sampai Nirwana...
Kali saja aka kamu yang ku cari...
Sekarang Aku telah pergi...
Jika kamu Ada di kaki langit...
Janganlah Kau menangis...
Karena Aku sang Petang...
Telah Pergi...
Dan tak akan kembali Lagi...

-Bersambung-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar